THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES �

Sabtu, 24 September 2011

Bisnis yang tidak beretika

Akhir – akhir ini sangat banyak iklan – iklan yang saling menjatuhkan satu sama lain. Banyak iklan yang mempromosikan produk mereka dengan cara membandingkannya dengan produk saingannya. Ada beberapa iklan yang dianggap mengejek produk lain yang sejenis dengan produk mereka dengan cara menyindir (berupa kata-kata), menampilkan gambar produk lain(dengan sedikit disamarkan), merendahkan iklan produk saingannya(dangan cara mengutip kata-kata dari iklan produk tersebut). Bahkan ada beberapa iklan yang merendahkan produk sainggannya secara terang – terangan dengan menampilkan produk, logo atau merk produk saingannya secara jelas pada iklan mereka. Sebaiknya perusahaan/orang yang akan membuat iklan dapat memikirkan ide yang lebih kreatif untuk mempromosikan produk/jasa mereka tanpa harus menjatuhkan produk/jasa saingannya. Beberapa konsumenpun ketika melihat iklan yang saling menjatuhkan, terkadang mereka malah mencelanya, bukannya malah bersimpati. Sebenernya tanpa saling menjatuhkanpun, iklan yang menarik dan pas porsinyapun konsumen justru malah menjadi penasaran dan ingin membelinya. Dan jika iklannya lebih beretika dan memandang norma yang ada di Indonesia ini, perusahaan dan produk pun malah terlihat tidak norak dan berwibawa. Justru iklan-iklan yang saling menjatuhkan terkadang malah mendapat pandangan negatif yang sebenarnya malah merugikan perusahaan itu sendiri. Kecenderungan makin banyaknya pelanggaran etika bisnis membuat keprihatinan banyak pihak. Pengabaian etika bisnis dirasakan akan membawa kerugian tidak saja buat masyarakat, tetapi juga bagi tatanan ekonomi nasional. Disadari atau tidak, para pengusaha yang tidak memperhatikan etika bisnis akan menghancurkan nama mereka sendiri dan negara.
Salah satu contok iklan ditelevisi yang menurut saya melanggar etika bisnis adalah iklan permen kopi ekspresso. Didalam iklan tersebut dibintangi oleh dua orang bintang iklan si “A” yang memakan permen kopi “kosong” terlihat sangat bodoh karena tidak dapat menjawab pertanyaan dari temannya si “B” yang memberikan pertanyaan aneh “Kenapa superman jubahnya di belakang ?”. Lalu si “B” menepuk pundak si “A” dan jatuhlah permen kopi “kosong” tersebut dengan bunyi yang nyaring, lalu si “B” berkata “Pantesan makannya permen kopi-ko song sih..! Nih yang berisi Permen kopi pake isi”.
Kalau melihat dari iklan itu nampak sekali suatu nilai emosional yang ditonjolkan dan tidak menampakkan nilai etika dan edukasi sama sekali. Berikut di jabarkan “Permen kopi-ko song” : Nampaknya kalimat tersebut jelas ingin menyindir saingan produk mereka, dari cara penyebutan dan pemenggalan serta pengucapan kata “kopi kosong” saja jelas kita dapat mengetahui merk apa yang mereka maksud. Pertanyaan aneh yang tidak bisa dijawab : ini seolah-olah seseorang terlihat bodoh karena memakan produk “permen kopi kosong”, padahal tidak ada hubungannya antara orang tersebut bisa menjawab atau tidak dengan permen yang ia makan. Dan bunyi yang nyaring ketika permen itu jatuh : Kejadian ini seolah menjelaskan poin diatas bahwa tong kosong nyaring bunyinya, artinya produk yang mereka maksud tidak memberikan sesuatu manfaat apapun bagi konsumennya. Dari ketiga poin diatas nampak sekali kalo nilai nilai emosi yang sangat ditonjolkan dalam iklan tersebut. Sehingga, dimana fungsi iklan sebagai informasi terhadap masyarakat tidak nampak dan tidak memberikan nilai edukasi apalagi hiburan.

Selasa, 26 April 2011

Resensi Karya Tulis


Judul : Surat Kecil Untuk Tuhan
Penerbit : Inandra Publisher
Penulis : Agnes Davonar
Kategori : True Story
Cetakan : ke-8
Tebal : x + 232 Halaman


ANDAI Aku BISA KEMBALI

Aku INGIN TIDAK ADA TANGISAN

ANDAI Aku BISA KEMBALI

Aku TIDAK INGIN ADA LAGI HAL YANG SAMA TERJADI PADAKU

TERJADI PADA SIAPAPUN

TUHAN ANDAI Aku BISA MEMOHON

JANGAN ADA TANGIS DAN DUKA DI DUNIA LAGI

TUHAN ANDAI Aku BISA MENULIS SURAT UNTUKMU

JANGAN PISAHKAN Aku DARI SAHABAT DAN ORANG YANG Aku SAYANGIN.

Aku INGIN MENJADI DEWASA SEPERTI BURUNG YANG BISA TERBANG KETIKA IA DEWASA

Aku INGIN AYAH MELIHAT Aku KETIKA Aku MEMILIKI LAGI KEINDAHAN GERAIAN RAMBUT..

TUHAN SURAT KECILKU INI..

ADALAH PERMINTAAN TERAKHIKU ANDAI Aku BISA KEMBALI..

Itulah untaian kata yang tertera dalam surat kecilnya kepada Tuhan. Agnes Davonar, yang lebih dikenal sebagai cerpenis online mendapat kesempatan untuk menuangkan kisah nyata gadis kecil ini dalam sebentuk karya sastra. Dialah Gitta Sassa Wanda Cantika, kita mengenalnya sebagai mantan artis cilik era 1998. gadis kecil inilah tokoh utama dalam novel Surat Kecil Untuk Tuhan yang divonis menderita kanker ganas dan diprediksi hidupnya hanya tinggal 5 hari lagi.

Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, sebuah kanker ganas yang langka mnyerangnya dan nyaris membuat wajahnya menjadi tampak seperti monster. Dokter yang memeriksanya memvonis gitta, dia akan mati dalam waktu 5 hari bila tidak melakukan operasi. Orang tuanya berat mengambil keputusan, bagaimanapun juga sebagai orang tuanya, mereka tidak tega melihat separuh wajah putrinya harus hilang karena operasi Kasus kanker ganas yang diidap oleh Gitta menjadi kasus pertama yang terjadi di Indonesia dan menjadi sebuah perdebatan di kalangan kedokteran karena kanker tersebut biasa hanya terjadi pada orang tua.

Namun, Tuhan memang maha adil. Dengan segala upaya akhirnya orang tua nya, Gitta mendapatkan kesempatan untuk sembuh setelah bertahan selama 6 bulan melalui kemotrapi untuk membunuh sel - sel kanker yang menggerogoti tubuhnya. Sekali Kemotrapi, mampu merontokka semua rambut yang ada di tubuhnya, dan tubuh kecil Gitta harus menjalaninya hingga 25 kali untuk bisa sembuh.

Namun, ketegaran Gitta dan semangatnya untuk terus bertahan hidup mampu membuatnya mengirup udara 6 bulan lebih lama. Dunia kedokteran pun dibuat tercengang atas keberhasilan tim dokter Indonesia memperlambat pertumbuhan sel kanker Ditta. Karena dalam beberapa kasus yang terjadi, kanker langka ini mampu merenggut nyawa hanya dalam hitungan hari. Ketika semua orang bersuka cita pada kesembuhan gitta, namun rupanya kesempatan sembuh itu hanya sebuah kesempatan. Setelah 6 bulan, kanker itu datang kembali dengan menjadi lebih ganas. Gitta pun pasrah melewatkan hidupnya dengan kanker yang semakin mengganas wajahnya hingga menyentuh paru parunya.

Hebatnya, dengan wajah yang hampir menghilang dan menyerupai monster, ia nekad ingin sekolah menyelesaikan pendidikannya. Hinaan bahkan cacian dari orang orang yang melihatnya tidak ia pedulikan. Dan, yang paling menyedihkan adalah ketika ujian kenaikan kelas disaat tangannya tak mampu lagi bergerak hingga hidungnya mimisan mengeluarkan darah, dirinya masih ingin terus ujian dan lulus naik kelas. Tekadnya sekuat baja sampai - sampai ibu Megawati memberikan penghargaaan khusus padanya sebagai siswa teladan.

Tapi kematian adalah sebuah kepastian. Tuhan mempunyai rencana lain dalam diri gadis itu. Membebaskannya dari rasa sakit yang dideritanya. Dan akhirnya, setelah 3 tahun lamanya ia berperang melawan ganasnya kanker, Tuhan datang menjemputnya. Biografi Ditta ditulis ulang oleh Agnes Danovar dan diterbitkan oleh Gramedia. Kisah yang menyentuh ini merupakan sebuah inspirasi kehidupan. Bagaimana seorang gadis kecil mampu berjuang dengan begitu hebatnya, hingga di detik - detik kematiannya, ia dapat merampungkan Sebuat surat yang ditujukan kepada Tuhan dan kepada kita semua.







Minggu, 03 April 2011

Karya Tulis/Ilmiah merupakan bentuk ekspresi dari penulisnya

Didunia yang selalu berkembaang ini, membuat banyak kemudahan bagi setiap orang untuk berekspresi sesuai dengan yang diinginkan. Salah satunya menuangkan ide ataupun suatu karya dalam berbagai media untuk diketahui oleh banyak publik. Teknologi dan berbagai jaringan sosial membuat jalan untuk dikenal publik menjadi lebih mudah.

Berdasarkan pendapat Ibu Rosi Rosida yang menyatakan bahwa “suatu karya tulis merupakan hasil dari proses bernalar penulisnya. Jadi tidak salah menilai seseorang dari karya tulisnya, sehingga kita bisa menilai seseorang dari tulisannya”.

Dari pendapat tersebut saya setuju, karena setiap pengarang atau penulis bebas mengekspresikan isi pikirannya di suatu karya tulis. Karya tulis juga dapat menjadi tempat bagi pengarang atau penulis untuk mengkritik apa yang sedang terjadi saat ini. Bahkan penulisan dalam bentuk ekspresi tidak hanya untuk mengkritik, tetapi bisa juga untuk dalam bentuk sastra seperti membuat puisi, novel, cerpen ataupun bisa juga sebagai catatan harian dalam blog yang sesuai dengan isi hati dan perasaan penulis. Sehingga karya ilmiah tersebut berasal dari proses penalaran. Suatu karya ilmiah menjadi mudah kalau sumbernya bisa mengalir dari hati dan fikiran penulis.

Bentuk ekspresi dalam bentuk karya tulis semacam ini menurut saya sangatlah bagus, karena berekspresi dalam hal positif dan mampu menciptakan suatu karya yang dapat di konsumsi oleh masyarakat luas yang mungkin bisa membantu masyarakat yang membutuhkan sumber, yang kebetulan temanya sama. Setiap karya tulis mempunyai gaya bahasa tersendiri yang mencerminkan pribadi dari pengarang atau penulisnya. Biasanya tergantung dengan kondisi perasaan pengarang atau penulisnya, inilah yang membedakan penulis yang satu dengan yang lainnya.

Jadi jika dikatakan “ Suatu karya ilmiah merupakan hasil proses bernalar penulisnya sehingga tidak salah bila kita menilai seseorang dari tulisannya “ menurut saya ada benarnya karena sumber inspirasi membuat karya ilmiah adalah dari proses berfikir yang menggunakan nalar, dan dalam menulis tidak akan jauh dari perasaan (mood). Karena persaan tidak lepas dari diri seseorang maka setiap karya pasti ada sisi yang mencerminkan watak,sifat dari penulis. Maka dari sini ada beberapa orang yang bisa menilai penulis dari hasil karya tulisannya.

Karya Tulis/Ilmiah merupakan bentuk ekspresi dari penulisnya

Didunia yang selalu berkembaang ini, membuat banyak kemudahan bagi setiap orang untuk berekspresi sesuai dengan yang diinginkan. Salah satunya menuangkan ide ataupun suatu karya dalam berbagai media untuk diketahui oleh banyak publik. Teknologi dan berbagai jaringan sosial membuat jalan untuk dikenal publik menjadi lebih mudah.

Berdasarkan pendapat Ibu Rosi Rosida yang menyatakan bahwa “suatu karya tulis merupakan hasil dari proses bernalar penulisnya. Jadi tidak salah menilai seseorang dari karya tulisnya, sehingga kita bisa menilai seseorang dari tulisannya”.

Dari pendapat tersebut saya setuju, karena setiap pengarang atau penulis bebas mengekspresikan isi pikirannya di suatu karya tulis. Karya tulis juga dapat menjadi tempat bagi pengarang atau penulis untuk mengkritik apa yang sedang terjadi saat ini. Bahkan penulisan dalam bentuk ekspresi tidak hanya untuk mengkritik, tetapi bisa juga untuk dalam bentuk sastra seperti membuat puisi, novel, cerpen ataupun bisa juga sebagai catatan harian dalam blog yang sesuai dengan isi hati dan perasaan penulis. Sehingga karya ilmiah tersebut berasal dari proses penalaran. Suatu karya ilmiah menjadi mudah kalau sumbernya bisa mengalir dari hati dan fikiran penulis.

Bentuk ekspresi dalam bentuk karya tulis semacam ini menurut saya sangatlah bagus, karena berekspresi dalam hal positif dan mampu menciptakan suatu karya yang dapat di konsumsi oleh masyarakat luas yang mungkin bisa membantu masyarakat yang membutuhkan sumber, yang kebetulan temanya sama. Setiap karya tulis mempunyai gaya bahasa tersendiri yang mencerminkan pribadi dari pengarang atau penulisnya. Biasanya tergantung dengan kondisi perasaan pengarang atau penulisnya, inilah yang membedakan penulis yang satu dengan yang lainnya.

Jadi jika dikatakan “ Suatu karya ilmiah merupakan hasil proses bernalar penulisnya sehingga tidak salah bila kita menilai seseorang dari tulisannya “ menurut saya ada benarnya karena sumber inspirasi membuat karya ilmiah adalah dari proses berfikir yang menggunakan nalar, dan dalam menulis tidak akan jauh dari perasaan (mood). Karena persaan tidak lepas dari diri seseorang maka setiap karya pasti ada sisi yang mencerminkan watak,sifat dari penulis. Maka dari sini ada beberapa orang yang bisa menilai penulis dari hasil karya tulisannya.

Minggu, 27 Februari 2011

Pasar Tradisional Mati Suri Karena Dekat dengan Supermarket

Pasar Tradisional Mati Suri Karena Dekat dengan Supermarket

Bersih dan sejuk membuat masyarakat lebih memilih berbelanja ke supermarket dibanding blanja ke pasar tradisional. Berdekatannya lokasi supermarket dan pasar tradisional membuat pasar tradisional mati suri. Yang dimaksud mati suri ini adalah pasar itu tetap ada dan nyata, tetapi berkurangnya konsumen membuat penghasilan pedangan merosot dan semakin sepinya pedagang yang memilih berganti haluan.
Diera yang semakin maju ini orang sekarang lebih suka berbelanja ke hypermarket ataupun supermarket, selain bersih tempat yang lebih dekat dan banyak promopun semakin menjadi pilihan masyarakat. Ini semua sangat berdampak kurang baik bagi pedangan. Karena begitu berat dan banyaknya pesaing, makin tenggelamlah pasar tradisional. Sehingga pendapatan makin merosot dan barang dagangan menjadi tersisa banyak yang mengakibat kerugian.

Bukan berarti pasar tradisional terus digusur kemudian diganti dengan hypermarket atau bangunan mal mewah. Sudah banyak kasus seperti ini yang mengatasnamakan revitalisasi pasar tapi kemudian para pedagang digusur, diancam apabila tidak mau pindah atau bahkan dibakar sebagai pemaksaan secara tidak langsung. Sudah banyak pasar yang terbakar kemudian dipagari seng dan kemudian para pedagang dilarang membangun kiosnya kembali, kemudian bangunan bekas pasar berubah menjadi pusat perbelanjaan. Dan para pedagang yang dulu mempunyai kios diharuskan membeli kios baru dengan harga baru yang lebih mahal, padahal kios tersebut menjadi sumber penghasilan buat sipedagang. Tidak heran apabila pedagang dipasar Koja dan daerah lain sempat ricuh karena ketidakadilan yang terjadi.

Padahal dibeberapa negara lain seperti negri Jiran – Malaysia dan Singapore, pasar tradisional dijadikan tujuan wisata. Pasar tradisional dikelola dengan professional dan bersih sehingga pengunjung juga merasa nyaman dan senang berbelanja. Thailand, pasar apungnya bahkan menjadi tujuan utama oleh turis asing yang berkunjung. Pasar tradisional di Turki, Jepang dan Korea juga dikelola secara professional dan menjadi tujuan wisata.

Bukan seperti di Indonesia yang malah malu dengan identitas pasar tradisionalnya, coba dikelola secara professional, rapi dan super duper bersih, pasti bisa menjadi obyek wisata yang menarik serta menambah tenaga kerja serta pendapatan negara. Mari sebelum terlambat kita lestarikan budaya Negara kita, bukannya malah mencoba menghilangkan.

Sumber :

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:5emWuzRFyAsJ:katawaktu.multiply.com/journal/item/115+artikel+Pasar+Tradisional+Mati+Suri+Karena+Dekat+dengan+Supermarket&cd=7&hl=id&ct=clnk&gl=id&source=www.google.co.id

Adi Lazuardi - detikNews